Nampaknya dia satu-satunya orang selain keluargaku yang sering kuingat.
Suatu saat ketika mengikuti lomba di Jogja, aku berniat sekali untuk membawakannya sesuatu, apapun mungkin. Jadi ketika berada di pasar seputaran Borobudur, mataku tak henti-hentinya melirik ke sebuah kaos khas Jogja dengan gambar becak yang besar di bagian depan bawah T-shirt tersebut. Sepertinya ini bisa jadi cindera mata, hmm.
Tapi sepanjang jalan aku menimbang-nimbang, alangkah tidak eloknya memberikan hadiah 'pakaian' untuk seseorang yang kita tidak punya hubungan khusus dengannya meski kaos itu sudah masuk ke kantong dalam jinjinganku.
Esoknya, dibantu Ari, seorang kawan lama (hehehe),aku berkeliling Jogja dengan mobil yang di sewanya. Kami muter-muter di mall dan masuk ke salah satu Toko Buku yang paling tersohor di Indonesia, Gramedia.
Tidak yakin dengan kaos bergambar becak, sambilan mencari-cari buku untuk anak-anak, plus juga buku titipan dari sohib terbaik ever ku, aku juga berencana mencari sesuatu yang bisa kuhadiahkan untuknya mengganti hadiah yang konyol kemarin
Setelah berkeliling, tetiba mataku tertumbuk ke sebuah judul buku yang kira-kira dikhususkan untuk tes para capra, catar, catam, dan ca-ca lainnyayang aku lebih sering menyebutnya 'aparat'.
Ahh, aku benci menghadiahinya buku itu, itu membuatku seolah-olah telah ridha dengan pilihannya, padahal tidak, tidak sama sekali. Tapi sayang perlu sedikit pengorbanan. Dan buku itupun kubawa dalam dekap menuju kasir, hingga kudengar Ari berkata, "Gak usah beli disini, mahal, ntar kita cari diTaman Pintar aja, mau buku apa saja ada, dan harganya terjangkau."
Hmm, boleh juga jawabku dalam hati sembari meletakkan kembali buku itu di tumpukan buku-buku lain yang senyawa.
Walhasil keluar dari Gramed aku hanya membeli beberapa buku cerita anak-anak dan sebuah Al-Qur'an yang juga ingin kuhadiahi kepada seseorang.
Tentang buku titipan kawanku, ketika aku memberitahunya harga buku-buku disana via sms, diapun mengusulkan hal yang sama dengan Ari, "Qe carik aja di loak, yang penting bukunya sama."
Sepulang dari situ, akupun menyusun rencana untuk mengunjungi Taman Pintar, yang sudah pernah kukunjungi sekali saat ke benteng Vredeburg. Kata Ari, "Biar kuantar Sabtu selepas ujianku, karena besok Jum'at." Aku tak menjawabnya.
Maka ketika besoknya, pasukanku berangkat menuju Bioskop XXI untuk menonton Star War dan Langit Terbelah di Eropa, akupun berangkat sendirian ke Taman Pintar. Nekatnya aku yang tak tau jalan dan arah, berjalan-jalan sendiri di kampung orang. Tapi aku tak punya banyak waktu, hari minggu aku harus pulang, dan besok aku sudah harus packing.
Setiba di Taman Pintar diantar taksi, aku mencari food court karena
sudah sangat kelaparan tak sempat sarapan. Usai menyantap empek-empek Palembang
buatan wong Jowo, aku langsung berkeliling, membuka list di HP ku mencari satu
persatu buku pesanana kawan terbaik ever ku itu.( Sebenarnya dia sang mantan
waktu SMA yang kini sudah jadi saudara tanpa harus terdaftar di dalam KK
Selain buku-buku antropologi dan filsafat dan beberapa buku 'gila' lainnya yang dipesan saudaraku itu, aku juga membeli beberapa novel utk koleksi plus novel untuk hadiah bagi yang pantas mendapat hadiah nantinya.
Kau ingin tau salah satu buku gila yang dipesankan kepadaku? - Perempuan di titik nol alias Firdaus - Karya Nawal el-Sadawi. itu adalah buku yang paling gila yang pernah kubaca, dan sangat tidak dianjurkan untuk makhluk berusia di bawah 25. Aku serius.
Nah, setelah semua buku itu terkumpul, aku tak jua menemukan buku yang ingin kuhadiahkan kepadanya, dia yang kuingat dimana-mana. Padahal di setiap toko yang kusinggahi aku menanyakan perihal buku tsb. Mereka telah berusaha juga mencari-cari ke kios lain, namun nihil, hasilnya nol. Buku itu tak dijual disini.
Betapa menyesalnya aku, kenapa tak jadi membelinya di Gramed kemarin. Ahh,rencanaku gagal, -gagal total.
Tapi aku tak akan menyerah, masih ada beberapa kios yang belum kutanyai, dan akupun mulai bergerak lagi dengan dua kantong besar buku-buku titipan sang best fren dan novel-novel punyaku.
Setelah tanya sana sini, rasanya para penjual di lapak-lapak itu merasa akusedang mencari sesuatu yang tak ada. Bagaimana cara mereka bisa mendapatkan buku yang memang tak pernah dicetak.heheheheh. Tapi aku tak peduli lagi. Sudah kepalang tanggung, aku belum tentu bisa kembali kemari dalam beberapa tahun
Demi semangat itu, akupun menyusuri sebuah koridor lagi yang masih buka, sementara kios-kios lain ada beberapa yang sudah mulai tutup karena jadwal shalat Jum'at sudah tiba. Hmm, mirip dengan kondisi di kampungku yaa. Walaupun disini tak wajib tutup semua, tapi banyak juga yang tidak mau berjualan saat shalat Jum'at dilaksanakan.
Tiba di lapak pertama, di lorong itu yang dijaga oleh seorang perempuan,dia menjawab pertanyaanku dengan murung, mungkin kecapaian dari pagi sudah duduk disana.
Lapak ke dua di jaga oleh dua orang yang sepertinya kakak beradik : laki-laki dan perempuan.
'Ada buku ini ga',, tanyaku menyebut sebuah judul. Dan senangnya aku,
karena muka penjaga laki-laki itu seolah-olah merasa pernah mendengar tentang buku tersebut. Lalu dia mulai mengambil beberapa buku TPA dari rak atas, namun bukan itu yang kucari. Lalu aku menujuk kesebuah buku, "Ukurannya segini, Bukunya untuk Tes masuk Akademi Polisi, bukan Tes Polisinya", ujarku.
Dan pucuk dicinta ulampun tiba, dia menarik sebuah buku di tumpukan bawah, tereeeeeeng... 'Here you go.' teriakku dalam hati.
Berapa ini, serius, pada saat itu aku tak rencana minta kurang, capenya akuh, berjalan setengah harian hanya untuk sebuah buku. Selain membayar, akupun berterima kasih kepada si penjaga lapak dengan mengeluarkan 15 butir permen (mungkin lebih) dari tasku untuk kuberikan kepadanya dan semua penjaga lapak di lorong itu.. "Terima kasih yaaa". Hmm,bahagia sekali rasanya, semua
yang ingin kubawa pulang sudah lengkap sekarang. Aku memasukkan buku itu ke mungkin, kok ada orang datang kemari pigi bagi-bagi permen siang-siang. dalam tas dan menarik dua kertas besar penuh buku tanpa menghiraukan tatapan-tatapan dari penghuni lorong yang melihat aneh ke arahku. Senewen, hehe Tapi biarlah, aku ingin pulang. Aku lelah.
Namun, capeku ternyata tak tertebus hanya dengan buku itu berhasil kudapat, itu jam shalat Jum'at dan aku tak berhasil menyetop sebuah taksipun karena semuanya full dan ongkosnya sudah tak masuk akal.
Putus asa dengan taksi, akupun mencoba bertanya kepada penjaga halte, kira-kira kalau ke arahku, akau harus naik bus apa. Dia menjawabku dengan tersenyum. Ahh, betapa berharganya nilai sebuah senyum untukku saat itu. Setelah membayarnya, akupun meninggalkan beberapa butir permen di atas mejanya, dan dia tersenyum lagi.
Sepanjang jalan aku berfikir bagaimana caranya aku bisa pulang ya, sementara bus ini tidak sampai menjangkau wilayah tempat yang aku tinggali sementara di Jogja. Lalu, aku iseng mengirimi Ari sms, dan ia langsung merespon. "Turun saja di halte UGM, nanti saya jemput dengan motor,"
"Kabereh nyan." Nyoe cit meutuah that dan selalu bisa diandalkan.
No comments:
Post a Comment