After
he leaves, She lost some parts of her heart. Trying to recollect but failed.–Noorah
Ini kisah tentang
dua kutub, Utara dan Selatan, yang jauhnya milyaran kilo. Sebut saja mereka
dengan : yang pergi dan yang ditinggal.
Kehilangan itu adalah sebuah keniscayaan. Maka bersiaplah. Entah hari ini, entah nanti semua yang kita miliki akan pergi. Begitupun dengan seseorang ini. Menjelang bulan-bulan terakhir sebelum dia pergi, ia yang sedang kuceritakan berusaha mengisi lembar waktu penuh memori. Meskipun amygdala sudah penuh dengan kenangan yang berdesak-desak, tapi ada saja cara agar bagian penyimpan memori itu tidak overload. Semoga nanti ketika langkah-langkah itu beranjak menjauh, ia akan menjadi obat bagi hati.
Tapi ternyata pasalnya
tidak segampang itu bisa dipecahkan. Perlu waktu berminggu-minggu untuk
mengikhlaskan kalau ternyata ia milik masa depan seperti sudah pernah ditanamkannya
sejak awal.
Maka perlahan
lahan ia coba lepaskan. Sedikit demi
sedikit, namun namanya masih disebut dimana-mana di depan siapa saja. Hmm,
sudah kubilang, masalahnya tidak segampang itu, kan?
Hingga akhirnya
ia pun terbiasa dengan ketiadaan. Bulan bulan berjalan, tiba-tiba ia yang telah
pergi, hadir sekejap merobohkan tiang-tiang yang dipacangnya berhari-hari.
Tapi percayalah
bahwa bukan ini yang ingin kuceritakan. Ini hanya tentang kisah hadirnya yang
sekejap itu yang membuat khawatir orang yang ditinggal. Selain tak bisa
dihubungi, khabar yang tersebar, ia sedang menempuh bahaya di luar sana. Maka
sibuklah orang tersebut menelpon menawarkan untuk membawakan sebuah hadiah
bertajuk obat gosok untuk melindungi sang perwira yang sedang berada di medan
bahaya.
Maka dimulailah
petualangan mencari obat gosok mulai dari toko herbal pertama yang ia temui
hingga seluruh toko obat dan swalayan yang menjual obat disinggahinya. Demi
apa? Demi obat gosok? Haha. Ia punya lusinan di rumah yang kemudian sudah dibaginya
kemana-mana hingga ke China, dan ketika hari itu, saat ia benar-benar
membutuhkan obat itu, ia tak bisa menemuinya dimana-mana. Hal tersebut
membuatnya gamang, tentunya.
Setibanya ia di
sebuah ponpes tempat ia menghabiskan waktu siang itu, ia masih berusaha
mendapatkan sesuatu yang ingin dijadikan judul tulisan ini.
“Ada yang jual
Minyak Herba disini, Ki?”
Yang ditinggal menainyai kawannya sesama trainer di
sekolah itu.
“Sama ustadzah W
ada. Coba ana telpon. Hmm, gak diangkat, mereka sedang latihan pramuka.”
“ Ya uda gak
apa.” Ujar kawannya.
“Untuk apa
emangnya?” Tanya si teman.
“Untuk Sang Perwira.”
“Maksud ente?
Sang perwira sedang disini? Surprise muncul dari wajah sahabatnya.
“ Iya, bentar
lagi balik, jam 3.”
Demi mendengar
angka beberapa puluh menit lagi itu, si ustadzah yang selalu tampak ABG itu
menelpon salah seorang ustadz yang menjadi penasehat di pondok tersebut.
“Oya, ana lupa,
biasanya di klinik ada.”
Maka ia menyeret
si teman yang sudah kehilangan semangat ke klinik pondok menemui seseorang yang
bisa membantu.
“Waduh, baru aja
habis kak.. Baru tadi pagi ana pakai untuk obatin anak-anak, dan itu botol
terakhir, uda terbuka. Coba aja ke Toko Medina,
biasa ada.” Usulnya.
“Dia perlu
sekarang, mau diantar ke bandara.” Jawab si ustdzah ABG cepat-cepat.
Sahabatnya
kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan yang berputar-putar di benaknya.
Kenapa dia yang
semangat kali ya. Hmm
Ternyata ini
bukan tentang sebotol minyak, kawan. Ini tentang dia yang hendak pergi, dan
obat ini diharapkan bisa menjadi penjaganya disana di saat jauh dari keluarga.
Menit-menit
terakhir hampir menuju jam 3 ketika sang kawan berkata, “Sudahlah, ia sudah
pergi.”
Tapi si ustadzah tak tampak ingin menyerah. Begitu
memasuki kantor untuk menanda tangani absen, mereka bertemu seseorang lagi.
“Ustadz tau siapa
yang ada jualan produk ini?” Tanya si ustadzah.
Udahlah..
udahlah.. Ane uda nyerah.
Rutuk sahabatnya.
Tapi ia tak
berdaya dan membiarkan ustadz tersebut menelpon kesana kemari demi sebotol
minyak.
Mestakung,
mestakung.*
Walhasil, minyak
itu memang sedang kosong dalam peredaran.
Dua sahabat
akhirnya duduk, bercerita.
“Semangat kali ente, macam yang mau pergi itu kawan ente.”
Si ustadzah
tersenyum, dan rasanya ia tak perlu menjawab apa-apa. Binar di matanya telah
menceritakan segalanya : bahwa aku pernah merasa apa yang kau rasa, dan aku
akan melakukan apa saja untuk bisa menjaga mereka.
Dan yang
bulir-bulir yang terucap kemudian, “Untuk seseorang yang begitu berarti, doa
adalah hadiah sepanjang masa. Bahkan hingga saat ini, orang-orang yang pernah
ana sayang, masih berjejeran dalam untaian harap yang ana ucap.”
“Hmm, kalau
begitu baiklah, tak perlu minyak herba, doa saja cukup.”
Maka ia keluarkan
Hp nya dan mengetikkan seuntai doa. Semoga Allah menjagamu disana.
*Mestakung :
semesta mendukung