Songs

Tuesday, 2 October 2018

Perwira dan Minyak Gosok

After he leaves, She lost some parts of her heart. Trying to recollect but failed.–Noorah

Ini kisah tentang dua kutub, Utara dan Selatan, yang jauhnya milyaran kilo. Sebut saja mereka dengan : yang pergi dan yang ditinggal.

Kehilangan itu adalah sebuah keniscayaan. Maka bersiaplah. Entah hari ini, entah nanti semua yang kita miliki akan pergi. Begitupun dengan seseorang ini. Menjelang bulan-bulan terakhir sebelum dia pergi, ia yang sedang kuceritakan berusaha mengisi lembar waktu penuh memori. Meskipun amygdala sudah penuh dengan kenangan yang berdesak-desak, tapi ada saja cara agar bagian penyimpan memori itu tidak overload. Semoga nanti ketika langkah-langkah itu beranjak menjauh, ia akan menjadi obat bagi hati.

Tapi ternyata pasalnya tidak segampang itu bisa dipecahkan. Perlu waktu berminggu-minggu untuk mengikhlaskan kalau ternyata ia milik masa depan seperti sudah pernah ditanamkannya sejak awal.

Maka perlahan lahan  ia coba lepaskan. Sedikit demi sedikit, namun namanya masih disebut dimana-mana di depan siapa saja. Hmm, sudah kubilang, masalahnya tidak segampang itu, kan?

Hingga akhirnya ia pun terbiasa dengan ketiadaan. Bulan bulan berjalan, tiba-tiba ia yang telah pergi, hadir sekejap merobohkan tiang-tiang yang dipacangnya berhari-hari.

Tapi percayalah bahwa bukan ini yang ingin kuceritakan. Ini hanya tentang kisah hadirnya yang sekejap itu yang membuat khawatir orang yang ditinggal. Selain tak bisa dihubungi, khabar yang tersebar, ia sedang menempuh bahaya di luar sana. Maka sibuklah orang tersebut menelpon menawarkan untuk membawakan sebuah hadiah bertajuk obat gosok untuk melindungi sang perwira yang sedang berada di medan bahaya. 

Maka dimulailah petualangan mencari obat gosok mulai dari toko herbal pertama yang ia temui hingga seluruh toko obat dan swalayan yang menjual obat disinggahinya. Demi apa? Demi obat gosok? Haha. Ia punya lusinan di rumah yang kemudian sudah dibaginya kemana-mana hingga ke China, dan ketika hari itu, saat ia benar-benar membutuhkan obat itu, ia tak bisa menemuinya dimana-mana. Hal tersebut membuatnya gamang, tentunya.

Setibanya ia di sebuah ponpes tempat ia menghabiskan waktu siang itu, ia masih berusaha mendapatkan sesuatu yang ingin dijadikan judul tulisan ini.

“Ada yang jual Minyak Herba disini, Ki?”

Yang ditinggal menainyai kawannya sesama trainer di sekolah itu.

“Sama ustadzah W ada. Coba ana telpon. Hmm, gak diangkat, mereka sedang latihan pramuka.”

“ Ya uda gak apa.” Ujar kawannya.

“Untuk apa emangnya?” Tanya si teman.

“Untuk Sang Perwira.”

“Maksud ente? Sang perwira sedang disini? Surprise muncul dari wajah sahabatnya.

“ Iya, bentar lagi balik, jam 3.”

Demi mendengar angka beberapa puluh menit lagi itu, si ustadzah yang selalu tampak ABG itu menelpon salah seorang ustadz yang menjadi penasehat di pondok tersebut.

“Oya, ana lupa, biasanya di klinik ada.”

Maka ia menyeret si teman yang sudah kehilangan semangat ke klinik pondok menemui seseorang yang bisa membantu.

“Waduh, baru aja habis kak.. Baru tadi pagi ana pakai untuk obatin anak-anak, dan itu botol terakhir, uda terbuka. Coba aja ke Toko Medina,  biasa ada.” Usulnya.

“Dia perlu sekarang, mau diantar ke bandara.” Jawab si ustdzah ABG cepat-cepat.

Sahabatnya kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan yang berputar-putar di benaknya.
Kenapa dia yang semangat kali ya. Hmm

Ternyata ini bukan tentang sebotol minyak, kawan. Ini tentang dia yang hendak pergi, dan obat ini diharapkan bisa menjadi penjaganya disana di saat jauh dari keluarga.

Menit-menit terakhir hampir menuju jam 3 ketika sang kawan berkata, “Sudahlah, ia sudah pergi.”

Tapi  si ustadzah tak tampak ingin menyerah. Begitu memasuki kantor untuk menanda tangani absen, mereka bertemu seseorang lagi.

“Ustadz tau siapa yang ada jualan produk ini?” Tanya si ustadzah.

Udahlah.. udahlah.. Ane uda nyerah. Rutuk sahabatnya.

Tapi ia tak berdaya dan membiarkan ustadz tersebut menelpon kesana kemari demi sebotol minyak.
Mestakung, mestakung.*

Walhasil, minyak itu memang sedang kosong dalam peredaran.

Dua sahabat akhirnya duduk, bercerita.

“Semangat kali ente, macam yang mau pergi itu kawan ente.”

Si ustadzah tersenyum, dan rasanya ia tak perlu menjawab apa-apa. Binar di matanya telah menceritakan segalanya : bahwa aku pernah merasa apa yang kau rasa, dan aku akan melakukan apa saja untuk bisa menjaga mereka.

Dan yang bulir-bulir yang terucap kemudian, “Untuk seseorang yang begitu berarti, doa adalah hadiah sepanjang masa. Bahkan hingga saat ini, orang-orang yang pernah ana sayang, masih berjejeran dalam untaian harap yang ana ucap.”

“Hmm, kalau begitu baiklah, tak perlu minyak herba, doa saja cukup.”

Maka ia keluarkan Hp nya dan mengetikkan seuntai doa. Semoga Allah menjagamu disana.

*Mestakung : semesta mendukung







Cendera Hati


Nampaknya dia satu-satunya orang selain keluargaku yang sering kuingat.

Suatu saat ketika mengikuti lomba di Jogja, aku berniat sekali untuk membawakannya sesuatu, apapun mungkin. Jadi ketika berada di pasar seputaran Borobudur, mataku tak henti-hentinya melirik ke sebuah kaos khas Jogja dengan gambar becak yang besar di bagian depan bawah T-shirt tersebut. Sepertinya ini bisa jadi cindera mata, hmm.

Tapi sepanjang jalan aku menimbang-nimbang, alangkah tidak eloknya memberikan hadiah 'pakaian' untuk seseorang yang kita tidak punya hubungan khusus dengannya meski kaos itu sudah masuk ke kantong dalam jinjinganku.

Esoknya, dibantu Ari, seorang kawan lama (hehehe),aku berkeliling Jogja dengan mobil yang di sewanya. Kami muter-muter di mall dan masuk ke salah satu Toko Buku yang paling tersohor di Indonesia, Gramedia.

Tidak yakin dengan kaos bergambar becak, sambilan mencari-cari buku untuk anak-anak, plus juga buku titipan dari sohib terbaik ever ku, aku juga berencana mencari sesuatu yang bisa kuhadiahkan untuknya mengganti hadiah yang konyol kemarin

Setelah berkeliling, tetiba mataku tertumbuk ke sebuah judul buku yang kira-kira dikhususkan untuk tes para capra, catar, catam, dan ca-ca lainnyayang aku lebih sering menyebutnya 'aparat'.

Ahh, aku benci menghadiahinya buku itu, itu membuatku seolah-olah telah ridha dengan pilihannya, padahal tidak, tidak sama sekali. Tapi sayang perlu sedikit pengorbanan. Dan buku itupun kubawa dalam dekap menuju kasir, hingga kudengar Ari berkata, "Gak usah beli disini, mahal, ntar kita cari diTaman Pintar aja, mau buku apa saja ada, dan harganya terjangkau."

Hmm, boleh juga jawabku dalam hati sembari meletakkan kembali buku itu di tumpukan buku-buku lain yang senyawa.

Walhasil keluar dari Gramed aku hanya membeli beberapa buku cerita anak-anak dan sebuah Al-Qur'an yang juga ingin kuhadiahi kepada seseorang.

Tentang buku titipan kawanku, ketika aku memberitahunya harga buku-buku disana via sms, diapun mengusulkan hal yang sama dengan Ari, "Qe carik aja di loak, yang penting bukunya sama."

Sepulang dari situ, akupun menyusun rencana untuk mengunjungi Taman Pintar, yang sudah pernah kukunjungi sekali saat ke benteng Vredeburg. Kata Ari, "Biar kuantar Sabtu selepas ujianku, karena besok Jum'at." Aku tak menjawabnya.

Maka ketika besoknya, pasukanku berangkat menuju Bioskop XXI untuk menonton Star War dan Langit Terbelah di Eropa, akupun berangkat sendirian ke Taman Pintar. Nekatnya aku yang tak tau jalan dan arah, berjalan-jalan sendiri di kampung orang. Tapi aku tak punya banyak waktu, hari minggu aku harus pulang, dan besok aku sudah harus packing.


Setiba di Taman Pintar diantar taksi, aku mencari food court karena sudah sangat kelaparan tak sempat sarapan. Usai menyantap empek-empek Palembang buatan wong Jowo, aku langsung berkeliling, membuka list di HP ku mencari satu persatu buku pesanana kawan terbaik ever ku itu.( Sebenarnya dia sang mantan waktu SMA yang kini sudah jadi saudara tanpa harus terdaftar di dalam KK


Selain buku-buku antropologi dan filsafat dan beberapa buku 'gila' lainnya yang dipesan saudaraku itu, aku juga membeli beberapa novel utk koleksi plus novel untuk hadiah bagi yang pantas mendapat hadiah nantinya.

Kau ingin tau salah satu buku gila yang dipesankan kepadaku? - Perempuan di titik nol alias Firdaus - Karya Nawal el-Sadawi. itu adalah buku yang paling gila yang pernah kubaca, dan sangat tidak dianjurkan untuk makhluk berusia di bawah 25. Aku serius.

Nah, setelah semua buku itu terkumpul, aku tak jua menemukan buku yang ingin kuhadiahkan kepadanya, dia yang kuingat dimana-mana. Padahal di setiap toko yang kusinggahi aku menanyakan perihal buku tsb. Mereka telah berusaha juga mencari-cari ke kios lain, namun nihil, hasilnya nol. Buku itu tak dijual disini.

Betapa menyesalnya aku, kenapa tak jadi membelinya di Gramed kemarin. Ahh,rencanaku gagal, -gagal total.

Tapi aku tak akan menyerah, masih ada beberapa kios yang belum kutanyai, dan akupun mulai bergerak lagi dengan dua kantong besar buku-buku titipan sang best fren dan novel-novel punyaku.

Setelah tanya sana sini, rasanya para penjual di lapak-lapak itu merasa akusedang mencari sesuatu yang tak ada. Bagaimana cara mereka bisa mendapatkan buku yang memang tak pernah dicetak.heheheheh. Tapi aku tak peduli lagi. Sudah kepalang tanggung, aku belum tentu bisa kembali kemari dalam beberapa tahun

Demi semangat itu, akupun menyusuri sebuah koridor lagi yang masih buka, sementara kios-kios lain ada beberapa yang sudah mulai tutup karena jadwal shalat Jum'at sudah tiba. Hmm, mirip dengan kondisi di kampungku yaa. Walaupun disini tak wajib tutup semua, tapi banyak juga yang tidak mau berjualan saat shalat Jum'at dilaksanakan.

Tiba di lapak pertama, di lorong itu yang dijaga oleh seorang perempuan,dia menjawab pertanyaanku dengan murung, mungkin kecapaian dari pagi sudah duduk disana.

Lapak ke dua di jaga oleh dua orang yang sepertinya kakak beradik : laki-laki dan perempuan.
'Ada buku ini ga',, tanyaku menyebut sebuah judul. Dan senangnya aku,
karena muka penjaga laki-laki itu seolah-olah merasa pernah mendengar tentang buku tersebut. Lalu dia mulai mengambil beberapa buku TPA dari rak atas, namun bukan itu yang kucari. Lalu aku menujuk kesebuah buku, "Ukurannya segini, Bukunya untuk Tes masuk Akademi Polisi, bukan Tes Polisinya", ujarku.

Dan pucuk dicinta ulampun tiba, dia menarik sebuah buku di tumpukan bawah, tereeeeeeng... 'Here you go.' teriakku dalam hati.

Berapa ini, serius, pada saat itu aku tak rencana minta kurang, capenya akuh, berjalan setengah harian hanya untuk sebuah buku. Selain membayar, akupun berterima kasih kepada si penjaga lapak dengan mengeluarkan 15 butir permen (mungkin lebih) dari tasku untuk kuberikan kepadanya dan semua penjaga lapak di lorong itu.. "Terima kasih yaaa". Hmm,bahagia sekali rasanya, semua
yang ingin kubawa pulang sudah lengkap sekarang. Aku memasukkan buku itu ke mungkin, kok ada orang datang kemari pigi bagi-bagi permen siang-siang. dalam tas dan menarik dua kertas besar penuh buku tanpa menghiraukan tatapan-tatapan dari penghuni lorong yang melihat aneh ke arahku. Senewen, hehe Tapi biarlah, aku ingin pulang. Aku lelah.

Namun, capeku ternyata tak tertebus hanya dengan buku itu berhasil kudapat, itu jam shalat Jum'at dan aku tak berhasil menyetop sebuah taksipun karena semuanya full dan ongkosnya sudah tak masuk akal.

Putus asa dengan taksi, akupun mencoba bertanya kepada penjaga halte, kira-kira kalau ke arahku, akau harus naik bus apa. Dia menjawabku dengan tersenyum. Ahh, betapa berharganya nilai sebuah senyum untukku saat itu. Setelah membayarnya, akupun meninggalkan beberapa butir permen di atas mejanya, dan dia tersenyum lagi.

Sepanjang jalan aku berfikir bagaimana caranya aku bisa pulang ya, sementara bus ini tidak sampai menjangkau wilayah tempat yang aku tinggali sementara di Jogja. Lalu, aku iseng mengirimi Ari sms, dan ia langsung merespon. "Turun saja di halte UGM, nanti saya jemput dengan motor,"

"Kabereh nyan." Nyoe cit meutuah that dan selalu bisa diandalkan.




Sunday, 1 January 2017

Untitle

Kulipat rinduku
Kubiarkan saja
Terurai bersama angin dan masa
Tersiram hujan dan air mata

Sunday, 12 June 2016

Rindu

Padamu kutitipkan rindu tanpa muara,
Tanpa cerita,
Tanpa suara,

Karena rindu ini tak perlu kau miliki.
Ini rindu milikku sendiri

Tuesday, 16 June 2015

kau dan hujan